Alokasi anggaran MBG benar -benar diarahkan pada kelompok yang paling rentan dalam 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu wanita hamil dan balita
Jakarta (-) – Koalisi pemuda, Dewan Pemuda Indonesia untuk Perubahan Taktis (IYCTC) mengatakan, meskipun masih terlalu dini dalam menilai keberhasilan Program Makan Nutrisi Gratis (MBG) secara keseluruhan, pengawasan sejak dini sangat penting untuk dilakukan sehingga ada kontrol dalam pelaksanaan program.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sebuah pernyataan yang diterima di Jakarta pada hari Kamis, petugas advokasi IYCTC Nalsali Ginting mengatakan, ini karena kasus keracunan MBG baru -baru ini di sejumlah wilayah, telah menimbulkan kekhawatiran publik tentang standar keamanan pangan dalam program ini.
Baca Juga: Bupati Sleman: Program MBG terbukti menggerakkan ekonomi warga negara
Faktanya, katanya, MBG adalah bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi stunting dan kekurangan gizi.
“Tujuan dari program ini sangat bagus, untuk membantu keluarga pra -pemahaman setidaknya mendapatkan bantuan keuangan, makanan bergizi bagi anak -anak untuk mendorong prestasi belajar di sekolah, dan menjalankan omset ekonomi pada skala MSME,” kata Nalsali.
Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, saat ini prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,6 persen. Data ini menunjukkan 1 dari 5 anak Indonesia dengan stunting. Ini tentu menjadi masalah terutama menjadi faktor yang menghambat Indonesia Gold pada tahun 2045.
Baca Juga: Forum Bumdes DIY segera meluncurkan 15 SPPG yang mendukung program MBG
Dia juga menyoroti pentingnya kandungan gizi dan menu makanan perlu disesuaikan dengan makanan khas dari area target. Ini untuk memfasilitasi adaptasi masyarakat dalam program ini, agar tidak menghilangkan konteks budaya terutama di sektor makanan.
Nalsali juga menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada keterlibatan keluarga dan lingkungan rumah. Dia juga mendorong orang tua untuk tidak hanya mengandalkan program ini, tetapi juga mempertahankan diet sehat di rumah, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak -anak, termasuk menjaga anak -anak dari paparan asap rokok.
“Jangan biarkan anak sehat di sekolah karena MBG, tetapi sampai rumah itu bahkan dikelilingi oleh paparan asap rokok dari orang tua. Meskipun kita tahu, paparan asap rokok juga merupakan risiko pertumbuhan dan perkembangan anak -anak. Belum lagi jika anak ingin belajar, orang tuanya merokok di rumah, itu pasti akan terganggu ketika belajar,” katanya.
Harapan lain, katanya, uang keluarga dapat digunakan untuk memenuhi nutrisi keluarga dan kebutuhan keluarga yang mendukung pendidikan anak -anak.
Baca Juga: Menteri Koordinasi Muhaimin Mengundang Bumdes yang Terlibat Formulir SPPG, Program MBG Sukses
Demikian pula, kepala Departemen Sains dan Pendidikan Dewan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Ibnu Khaldun Bogor, Nailah Alifah Auliyaa, mengatakan bahwa dasar hukum yang berguna sebagai panduan untuk standar layanan program ini menjadi sangat penting untuk memastikan program MBG berjalan terstruktur dan sesuai dengan tujuan.
“Program ini wajib untuk keberadaan SOP sehingga mekanisme dapur produksi MBG dapat benar -benar higienis, tetap berkualitas, terutama pengawasan pekerja dapur untuk tidak terpapar zat berbahaya, contoh terdekat adalah rokok. Residu asap rokok dapat menempel di permukaan dan mencemari makanan,” katanya.
Baca Juga: DPR Mendukung sepenuhnya program MBG mencapai “kecelakaan nol” melalui SOP yang jelas
Dia juga merujuk pada data yang menunjukkan bahwa ada lebih dari 1.000 kasus keracunan makanan dalam program MBG, dengan Jawa Barat sebagai sebagian besar wilayah. Dia juga mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan meningkatkan sistem keamanan pangan.
“Pemerintah perlu menyadari, bahwa untuk kasus pencegahan, tentu saja itu wajib dan tidak boleh ditoleransi kasus keracunan makanan, ini bukan hanya, persentase keberhasilan 99,99 persen, tetapi ini terkait dengan mencegah orang yang tidak sehat, sebaliknya menjadi sakit karena kelalaian program MBG ini,” katanya.
Selain pengawasan, Nailah juga mendorong alokasi anggaran MBG untuk benar -benar diarahkan pada kelompok yang paling rentan dalam 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu wanita hamil dan balita.
Menurutnya, menyesuaikan konteks itu penting sehingga program ini tidak hanya upacara atau simbolis, tetapi sebenarnya menjawab kebutuhan di lapangan.
Reporter: Mekah Yumna Ning Prisie
Editor: M. Tohahamaksun
Hak Cipta © antara 2025
RakyatPos Irian










