Kebijakan dan titik -titik cerah kesejahteraan tenaga kerja

- Jurnalis

Jumat, 2 Mei 2025 - 23:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta (-) – Di bawah langit Jakarta yang cerah, langkah -langkah para pekerja dari berbagai daerah menyatu dengan monas, membawa harapan panjang bahwa suara mereka terdengar lebih keras dan dihargai.

Pagi Fog belum menghilang, tetapi prosesi tenaga kerja dengan semangat yang membara telah memenuhi jalan -jalan ke pusat ibu kota untuk menyambut Hari Buruh Internasional 2025.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejumlah bendera Union berkibar di tengah lautan orang, menciptakan panorama solidaritas yang menggetarkan hati Monas dari pagi sampai matahari naik ke atas bukit.

Suara orator melanggar udara, menyerukan perjuangan untuk upah yang layak, jaminan pekerjaan, dan lebih banyak perlindungan sosial manusia untuk semua pekerja dari Sabang ke Merauke.

Spanduk besar yang membaca tuntutan pekerja diperpanjang luas, menjadi simbol bahwa peringatan ini bukan hanya upacara, tetapi teriakan tulus mereka yang bekerja untuk roda ekonomi negara.

Langkah -langkah mereka akhirnya berhenti di depan panggung utama di jantung kota Monas, di mana suara para pekerja memenuhi janji pejabat, dan Presiden Prabowo Subianto, berdiri sebagai jawaban atas harapan para pekerja Indonesia.

Gelombang massal juga dihibur melalui konser mini dari band tipe X mengguncang suasana, menjadikan Monas panggung besar di mana pekerjaan dan hiburan para pekerja, sambil menunggu kedatangan kepala negara.

Suasana peringatan 2025 Hari Buruh Internasional yang dirayakan oleh ratusan ribu pekerja dari beberapa konfeder serikat pekerja di Indonesia, yang berlangsung di Monas Jakarta, Kamis (1/5/2025). -/Halanianto

Tuntutan tenaga kerja

Hari itu, suara pekerja tidak lagi terpinggirkan, tetapi memiliki tempat yang seharusnya berada di tahap besar demokrasi dan perjuangan untuk keadilan sosial yang sedang diperjuangkan.

Panggilan “Tenaga Kerja Langsung!” Gema ketika para pemimpin serikat menyambut kehadiran Presiden Prabowo Subianto menandai peringatan hari Mei dengan antusiasme baru dan harapan besar.

Kehadiran Presiden bukan hanya simbol, tetapi bukti bahwa suara -suara pekerja sekarang mulai mendapatkan tempat dalam agenda pembangunan dan arah kebijakan negara.

Satu demi satu, para pemimpin pekerja dari berbagai konfederasi dilaporkan langsung ke Prabowo mengenai kondisi pekerja saat ini.

Presiden Konfederasi All Indonesia Buruh (KSBSI) Eli Rosita Silaban memulai laporan dengan menyatakan terima kasih atas kehadiran Presiden, berharap cinta para pekerja akan dibalas dengan perjuangan nyata untuk kesejahteraan mereka.

Pekerja mendesak keputusan Mahkamah Konstitusi yang terkait dengan hukum tenaga kerja untuk segera ditindaklanjuti, sehingga periode kerja pekerja saat ini dan di masa depan benar -benar dilindungi.

Masalah pekerja informal dan 6 juta pekerja digital menjadi sorotan karena masih belum termasuk dalam jaminan sosial pekerjaan.

Sementara itu, ketua Konfederasi Serikat Pekerja Semua Indonesia (KSPSI) Jumhur Hididesy menyebut istana di bawah Prabowo sebagai istana rakyat, tidak lagi menjadi milik elit, karena itu mendukung para pekerja dan orang kecil.

Menurutnya, Prabowo tidak hanya peduli pada pekerja, tetapi juga petani dan pengusaha kecil yang mendukung ekonomi negara dari akar rumput.

Upaya untuk meningkatkan upah minimum dan pembukaan ruang revisi undang -undang penciptaan kerja dianggap sebagai langkah pertama dari keselarasan negara dengan pekerja.

Masalah pelaut juga ditunjuk dengan desakan bahwa Indonesia meratifikasi Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional PBB (ILO) 188 tahun 2007 tentang pekerjaan dalam memancing hukum demi perlindungan bagi pekerja di sektor perikanan.

Presiden Konfederasi Semua Serikat Buruh Indonesia (KSPSI) dan Gani Nena Wea menghargai keberadaan kejahatan ketenagakerjaan oleh polisi nasional sebagai harapan baru bagi keadilan bagi pekerja.

Namun, ia menekankan bahwa efisiensi perusahaan tidak boleh mengorbankan hak -hak buruh dan menuntut keadilan antara pengusaha dan pekerja dalam hukum.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengatakan Iqbal mengingatkan makna historis hari Mei yang berdarah di Chicago untuk hak bekerja delapan jam sehari.

Dia juga menyuarakan enam tuntutan termasuk penghapusan outsourcingMemperkuat Satuan Tugas untuk Gugus Tugas Layofower, kenaikan upah, disertai dengan hukum tenaga kerja, konsep undang -undang tentang perlindungan pekerja rumah tangga (RUU PPRT), dan pemberantasan korupsi.

Perjuangan pekerja rumah tangga menjadi sorotan, mengingat masih banyak dari mereka yang mengalami kekerasan dan tanpa perlindungan hukum.

Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyambut ratusan pekerja di depan panggung selama peringatan Hari Buruh Internasional atau Hari Mei 2025 di daerah Monas, Jakarta Tengah, Kamis (1/5/2025). -/ho-biro tekan Sekretariat presiden

Jejak Soekarno

Prabowo menjadi presiden kedua setelah Sukarno yang hadir langsung dalam peringatan hari Mei, menyatukan kembali negara bagian dan buruh.

Dia tiba di 10:00 WIB, mengenakan safari krem ​​dan topi biru tua, disambut oleh teriakan massal para pekerja yang meledak dari segala arah. Prabowo! Prabowo! Prabowo! Meneriakkan para pekerja.

Pidato Presiden mengkonfirmasi komitmen untuk membela hak -hak pekerja dan meningkatkan kesejahteraan pekerja Indonesia secara konkret.

Lebih dari 200.000 pekerja hadir, menjadikannya peringatan hari Mei terbesar dalam sejarah Indonesia.

Kehadiran presiden dianggap sebagai bukti dukungan negara untuk perjuangan pekerja di tengah tantangan yang semakin kompleks.

Momentum mengingatkan peran strategis pekerja dalam pembangunan nasional yang tidak boleh diabaikan.

Seperti 60 tahun yang lalu ketika Sukarno hadir, Prabowo sekarang menunjukkan bahwa suara pekerja tetap penting dalam peta pembangunan bangsa.

Menciptakan kemakmuran

Suara pemimpin bergema di tengah ribuan yang menunggu harapan menjadi kenyataan dalam memperingati Hari Buruh di Monas, Jakarta.

Memulai pidato dengan nada yang kuat, Prabowo melukis impian Indonesia tanpa kemiskinan, di mana anak -anak bebas untuk belajar dan orang -orang menikmati layanan kesehatan yang setara.

Setelah 15 menit pidato, dari podium presiden memberikan hadiah kepada pekerja dalam bentuk pembentukan Dewan Kesejahteraan Tenaga Kerja Nasional yang akan dipenuhi dengan para pemimpin Buruh. Dewan akan memberikan masukan langsung untuk menyiapkan peraturan kerja yang adil.

Tepuk tangan gema ketika juga diumumkan pembentukan gugus tugas khusus untuk mencegah penghentian hubungan kerja unilateral, memastikan negara tidak lagi tidak ada dalam kondisi ubin pekerja.

Ribuan peserta mengangguk ketika janji -janji lain dibuat, perlindungan bagi pekerja rumah tangga segera dibahas di parlemen, dengan target penyelesaian dalam beberapa bulan, bukan bertahun -tahun.

“Kami tidak akan membiarkan orang -orang kami, kami tidak akan membiarkan para pekerja menjadi PHK sesuka hati, jika perlu, kami tidak akan ragu, kami akan campur tangan,” kata Prabowo untuk memicu antusiasme pekerja sore itu.

Tidak melupakan pekerja sektor kelautan dan perikanan dirujuk, dengan niat kuat untuk mendorong ratifikasi peraturan internasional sehingga mereka mendapatkan perlindungan yang sama di laut dan tanah.

Banyak pekerja berkilau ketika mereka mendengar rencana untuk mempelajari penghapusan sistem outsourcingmeskipun disertai dengan catatan untuk mempertahankan iklim investasi untuk pekerjaan yang berkelanjutan.

Ruang dialog kemudian akan dibuka secara lebih luas, melalui pertemuan besar antara 150 pemimpin buruh dan 150 pengusaha, menjembatani minat dengan satu prinsip pekerja harus hidup dengan baik dan dihargai.

Presiden Prabowo Subianto (kanan kedua) minum kopi sambil menyampaikan pidatonya di Perayaan Hari Buruh Internasional 2025 di daerah Monas, Jakarta, Kamis (1/5/2025). Dalam pidatonya Prabowo mengatakan dia akan membentuk gugus tugas FLO, mengesahkan RUU Perlindungan Pekerja Domestik, dan mencoba untuk memberantas korupsi di Indonesia. – Foto/Muhammad Adimaja/Yu/Pri.

Di tengah -tengah massa pekerja yang riuh yang memenuhi daerah Monas, Presiden Prabowo Subianto membawa dirinya lebih dekat tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

Di depan ratusan ribu pekerja, bukan sebagai figur, tetapi sebagai presiden yang menganggap dirinya bagian dari mereka. “Cukup? Cukup?” dia bertanya dengan nada bercanda, yang segera disambut oleh teriakan “Lanjutkan!” dari para pekerja.

Dengan suara serak, dia bercanda, “suaraku serak,” tawa undangan. Kemudian, dia meminta izin untuk berhenti sejenak untuk menghentikan pidatonya.

“Aku minum kopi ya?” Dia berkata sambil tersenyum, yang dijawab bersamaan, “Oke!” oleh para pekerja. Prabowo melanjutkan, “Ini adalah orang yang meminta, jika saya minum kopi bisa menjadi pidato tiga jam,” katanya, sekali lagi disambut dengan tawa dan sorak -sorai.

Kehangatan atmosfer semakin terasa ketika dia bertanya, “Apakah kamu tidak panas?” Apa yang dijawab dengan antusias, “Tidak! Lanjutkan, Tuan!” Tapi Prabowo benar -benar berdentang dengan nada bercanda, “tapi aku sudah kehabisan materi.” Dia mengatakan sambil menunjukkan kertas yang berisi pidatonya di buruh.

Percakapan hangat ini menciptakan momen yang sangat akrab, seolah -olah tidak ada penghalang antara pemimpin dan rakyatnya. Bagi Prabowo, pekerja tidak hanya kelompok yang harus dipertimbangkan, tetapi bagian dari dirinya sendiri.

“Saya merasa bahwa saya adalah presiden pekerja, petani, nelayan, orang -orang sulit,” katanya di awal pidato, menyiratkan bahwa perjuangan pekerja adalah perjuangannya juga.

Dengan suara yang bergetar tetapi kehangatan, presiden mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada para pekerja. Di depan lautan orang -orang berseragam seragam, ia mengingat perjuangannya di kancah politik nasional. “Lima kali saya melanjutkan pemilihan presiden, empat kali saya kalah,” katanya dengan nada yang jujur ​​dan terbuka.

Ceria segera muncul ketika Prabowo melanjutkan, “Tetapi para pekerja selalu mendukung saya, terima kasih.” Kata -katanya bukan hanya formalitas; Itu adalah pengakuan tulus dari seorang pemimpin kepada mereka yang tidak pernah meninggalkannya.

Prabowo menekankan bahwa dukungan para pekerja tidak hanya hadir dalam kemenangannya, tetapi terutama ketika dia jatuh dan kalah. “Empat kali saya kalah, kelima kami menang, saudara dan saudari,” katanya, yang segera disambut dengan tepuk tangan meriah dan berteriak penuh antusiasme Prabowo! Prabowo! Prabowo!.

Pada saat itu, hubungan antara presiden dan pekerja merasa begitu kuat, bukan hanya karena posisi atau posisi politik, tetapi karena perjalanan panjang yang mereka lalui bersama. Bagi Prabowo, kemenangan itu bukan hanya miliknya, tetapi milik semua pekerja yang telah setia di sisinya.

Di akhir pidato, semangat persatuan memuncak, sosok pekerja legendaris Marsinah diusulkan sebagai pahlawan nasional, asalkan semua pemimpin Buruh harus menyetujuinya.

Kehadiran Presiden Prabowo Subianto pada May Day 2025 di Monas Jakarta menjadi tempat yang terang untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja Indonesia melalui sebagian besar orang kecil.

Editor: Slamet Hadi Purnomo
Hak Cipta © antara 2025

RakyatPos Irian

Berita Terkait

Bupati Muara Enim Masih Diperiksa KPK di Sumsel, Besok Dibawa ke Jakarta
Golkar Sangat Prihatin Bupati Muara Enim Kena OTT KPK
KPK juga tengah mendalami kasus MBG, dan akan menggelar gelar perkara untuk mengetahui kelanjutannya
Polisi Ungkap Kronologi Meninggalnya Ibu Aminah Usai Makan Sate Beracun dari Menantunya
Wabah Ebola: Pembatasan perjalanan apa yang diberlakukan oleh negara-negara?
Fenomena langka Blue Moon pada 31 Mei bisa disaksikan dari Indonesia, perhatikan waktunya
Berita Terkini, Berita Terkini di Indonesia dan Dunia | tempo.co
Ikatan Keluarga Minang Nilai Klarifikasi Abu Janda Malah Memperluas Isu Intoleransi

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 16:35 WIB

Bupati Muara Enim Masih Diperiksa KPK di Sumsel, Besok Dibawa ke Jakarta

Senin, 8 Juni 2026 - 16:29 WIB

Golkar Sangat Prihatin Bupati Muara Enim Kena OTT KPK

Senin, 8 Juni 2026 - 16:29 WIB

KPK juga tengah mendalami kasus MBG, dan akan menggelar gelar perkara untuk mengetahui kelanjutannya

Senin, 8 Juni 2026 - 16:26 WIB

Polisi Ungkap Kronologi Meninggalnya Ibu Aminah Usai Makan Sate Beracun dari Menantunya

Kamis, 28 Mei 2026 - 07:19 WIB

Wabah Ebola: Pembatasan perjalanan apa yang diberlakukan oleh negara-negara?

Berita Terbaru

Berita

Golkar Sangat Prihatin Bupati Muara Enim Kena OTT KPK

Senin, 8 Jun 2026 - 16:29 WIB