Jakarta (-) -PDI Perjuman meminta agar penulisan ulang sejarah Indonesia yang diluncurkan oleh pemerintah dilakukan dengan benar berdasarkan fakta sejarah, tidak didasarkan pada cerita dari satu partai tertentu.
“Untuk menulis sejarah, tolong benar -benar sesuai dengan fakta sejarah. Bukan ''Ceritanya', TIDAK Cerita Mereka yang menang, tapi sungguh CeritaKisah itu, sejarah perjuangan bangsa kita, “kata ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidaya setelah upacara ulang tahun Pancasila di Jakarta pada hari Minggu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Djarot juga mengingatkan bahwa tidak ada sejarah bangsa yang ditutupi dalam menulis ulang sejarah yang sedang dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan.
“Jangan kemudian sejarah ditutupi, jangan teralihkan sejarah, maka kita harus benar -benar ketika ada tulisan historis, itu harus dilakukan secara terbuka,” katanya.
Baca Juga: PDIP: Koruptor untuk Perusak Lingkungan Bukan Pancasilais
Dalam hal ini, Djarot menyinggung perjalanan peringatan ulang tahun Pancasila pada tanggal 1 Juni, yang dilarang oleh Komando Operasional untuk Pemulihan dan Ketertiban (Kopkamtib) selama pemerintahan Orde Baru.
Peringatan kelahiran Pancasila dikatakan telah dihentikan setelah presiden pertama Republik Indonesia Soekarno meninggal pada tahun 1970. Larangan itu didasarkan pada pandangan sejarawan Nugroho Notosusanto yang mengatakan ulang tahun Pancasila bukan 1 Juni.
“Dan itu ditentang, itu diluruskan oleh para sejarawan,” kata Djarot.
Kementerian Kebudayaan menargetkan penulisan buku sejarah Indonesia yang diperbarui yang akan diselesaikan pada Agustus 2025. Proyek ini melibatkan 113 penulis, 20 editor volume, dan tiga editor umum dari sejarawan dan akademisi di bidang arkeologi, geografi, sejarah, dan humaniora lainnya.
Baca Juga: PDIP: Pancasila seharusnya tidak hanya dihukum, tetapi juga diaktualisasikan
Sebelumnya, Menteri Budaya Fadli Zon mengatakan rencana pemerintah untuk membuka ruang diskusi mengenai penulisan ulang buku sejarah Indonesia.
Dia mengatakan bahwa forum diskusi tentang draft buku sejarah baru dapat dilakukan jika persiapan desain buku sejarah telah selesai atau setidaknya didekati.
“Ya, tunggu buku itu, atau untuk maju, saya mengatakan bahwa mungkin 70 persen, 80 persen. Sekarang di atas 50 persen,” katanya di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (5/26).
Reporter: Fath Putra Mulya
Editor: Edy M Jacob
Hak Cipta © antara 2025
RakyatPos Irian










