Jakarta (-) – Tim Pengawas Haji Parlemen Indonesia (Timwas) pada hari Jumat, mengirim tim gelombang kedua untuk mengawasi layanan akomodasi, konsumsi, transportasi, dan kemudahan tulang rusuk.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia Haji Timwas Ina Ammania mengatakan bahwa ia dan tim akan segera memeriksa lapangan begitu tiba di Jeddah, dengan fokus untuk memastikan layanan yang diberikan kepada sidang sesuai dengan kontrak dan kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan organisasi haji (Syarikah).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tim dua memasuki Jeddah terlebih dahulu, karena setelah pergi ke Jeddah baru di Mekah. Tentunya apa yang kami tanggapi adalah akomodasi. Sesuai dengan apa yang kami berikan kepada para peziarah dan Syarikah,” kata Ina dalam pernyataannya di Jakarta pada hari Jumat.
Ina mengatakan bahwa selain mengawasi masalah peziarah, Haji Timwas juga akan memeriksa kualitas konsumsi peziarah.
“Yang kedua adalah katering. Mereka mendapatkan sesuai dengan apa yang telah kita bahas di DPR,” katanya.
Baca Juga: Timwas DPR dalam Laporan tentang Layanan Kesehatan Haji Haji Haji
Layanan transportasi termasuk operasi bus Sholawat juga menjadi perhatian khusus, terutama mengenai jadwal keberangkatan dan ketersediaan kendaraan yang melayani peziarah ke masjid besar.
“Kami juga akan melihat kendaraan untuk bus Sholawat ini sampai jam berapa akan selesai. Karena sebagian besar peziarah Indonesia sering pergi ke masjid besar,” kata Ina.
INA juga menyoroti pentingnya kemudahan akses ke aplikasi dan layanan NAP yang merupakan bagian dari proses lisensi dan manajemen ibadah saat berada di Tanah Suci.
Ina menekankan pentingnya peran kepala kelompok dalam menyiapkan data para peziarah tak lama setelah tiba di Mekah.
“Sekarang apa yang saya jumpai untuk (penerbitan) difasilitasi, sehingga jemaat tiba di Mekah, kepala kelompok seharusnya menyiapkan tusukannya untuk jemaatnya,” katanya.
Baca Juga: Wakil Pembicara DPR mengingatkan petugas dengan hati -hati melayani peziarah menjelang puncak haji
Untuk dicatat, sebanyak 100 peziarah Indonesia dilaporkan meninggal di Tanah Suci sampai Jumat, 30 Mei 2025 pukul 02.00 WIB. Data ini dirilis oleh sistem informasi dan komputerisasi haji terintegrasi (Siskohat) dari Kementerian Agama Indonesia. Sebagian besar peziarah yang mati adalah pria dan orang tua.
Menurut data Siskohat, dari total 100 penyembah yang meninggal, sebanyak 62 persen jenis kelamin pria, sementara 38 persen wanita. Dalam hal usia, 53 persen termasuk dalam kategori lansia, sementara 47 persen berada dalam kisaran usia produktif 41-64 tahun.
Selain itu, ada ratusan penyembah yang masih dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) dan rumah sakit Arab Saudi, keduanya karena dehidrasi, hipertensi, dan infeksi pernapasan.
Sementara itu, sejumlah jamaah masih menghadapi hambatan teknis yang terkait dengan penerbitan dokumen biarawati, yang berdampak pada akses layanan saat berada di Mekah, termasuk kesulitan dalam mendapatkan jadwal kunjungan ke Raudhah dan mobilisasi selama puncak ziarah.
Dewan Perwakilan Rakyat Timwas meminta Kementerian Agama Indonesia dan Muansasah untuk segera menyelesaikan hambatan teknis agar tidak mengganggu penyembahan para penyembah.
Baca Juga: Komisi VIII DPR: Masalah Syarikah untuk non -kuota haji harus dievaluasi
Baca Juga: Komite Mempersiapkan Skema Relay Penanganan Sakit Lansia di Puncak Haji
Baca Juga: Komnas Haji: Haji Furoda Visa Tidak Diterbitkan Jangan Menyalahkan Pemerintah
Reporter: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Laode Masrafi
Hak Cipta © antara 2025
RakyatPos Irian










