JAKARTA (-) – Menteri Populasi dan Pengembangan Keluarga (Mendukbanganga)/Kepala Bkkbn Wihaji mengatakan program Foster Garden Sisan Anak (Tamasya) adalah solusi untuk menjawab tantangan bonus demografis.
Ini disampaikan oleh Wihaji ketika meluncurkan program Tamasya di Tunas Harapan Harapan Harapan Center (TPA) dari Pt Dharma Satya Nusantara TBK (DSN), Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Selasa (27/5), yang dibawa keluar secara heransia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tamasya adalah jawaban untuk masalah memanfaatkan bonus demografis dengan meningkatkan tingkat angkatan kerja perempuan (TPAK) dan mencegah masalah kerentanan keluarga,” kata Wihaji dalam sebuah pernyataan resmi di Jakarta pada hari Rabu.
Baca Juga: Menukbangga Panggil Tamasya di Kalimantan Timur Menyederhanakan Pekerja Minyak Sawit
Dia berharap bahwa setelah tamasya beroperasi, pekerja, terutama wanita, dapat terus meningkatkan produktivitas di tempat kerja tanpa dibebani oleh pengasuhan anak.
“Harapan saya (perusahaan) yang pekerjanya memiliki banyak wanita dan memiliki anak, semoga dapat terus bekerja. Mengapa? Ada orang yang karena ini segera keluar. Setelah menikah, setelah melahirkan dan memiliki anak, itu keluar (tidak bekerja). Itu mengurangi tingkat produktivitas,” katanya.
Program tamasya juga diharapkan untuk mempertahankan populasi seimbang yang ditandai oleh tingkat kelahiran total atau TFR di 2.1.
Selain itu, ia juga dapat meningkatkan tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan (TPAK) menjadi 70 persen; Indeks pengembangan kualitas keluarga mencapai 80 persen, serta penurunan stunting menjadi 5 persen pada tahun 2045.
Baca Juga: Kementerian Ofukbangan: “Tamasya” dalam industri bantuan pekerja lebih produktif
“Pemerintah hadir untuk memberikan solusi, salah satunya adalah jalan -jalan,” katanya.
Selain penurunan TFR, kelimpahan populasi usia produktif yang belum digunakan secara optimal di pasar kerja, dan persentase kesenjangan gender juga merupakan masalah penting dalam pengembangan populasi dan keluarga.
TPAK nasional saat ini diketahui mengalami fluktuasi dan mencapai 66,17 persen (Agustus 2024), masih di bawah TPAK rata-rata Negara Bagian untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dalam populasi usia 25-64 tahun, yaitu 81,9 persen.
Pemilihan PT DSN sebagai tempat untuk peluncuran tamasya didasarkan pada kontribusi positif perusahaan terhadap lingkungan, sosial dan ekonomi. Selain itu, itu juga merupakan komitmen dalam memenuhi hak -hak pekerja dalam perawatan anak -anak yang tidak lagi ragu.
Baca Juga: Menaker: “Tamasya” memiliki dampak positif pada produktivitas pekerja
“Karena ada tempat penitipan anak (TPA) di perusahaan ini (PT DSN). Ada 91 TPA dengan 1.860 anak, dan 186 pengasuh. Ini dilakukan sehingga mereka (anak -anak) juga memiliki hak untuk memiliki masa depan. Ibunya dapat bekerja, anak -anak mereka juga mendapatkan sentuhan kasih sayang dan segala sesuatu untuk berjalan bersama, semua bahagia,” katanya.
Reporter: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Hak Cipta © antara 2025
RakyatPos Irian










