Jakarta (-) – Di belakang keindahan bunga opium (Papaver Somniferum) Yang menarik, disimpan sejarah panjang penyalahgunaan zat adiktif yang berasal dari tanaman ini. Opium dikenal sebagai salah satu narkotika non-sintetis tertua yang berasal dari getah tanaman poppy.
Meskipun telah digunakan selama ribuan tahun yang lalu untuk tujuan medis, opium sekarang lebih dikenal sebagai obat berbahaya yang memiliki risiko tinggi kesehatan fisik dan mental.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Asal dan Sejarah Opium
Keberadaan opium telah dicatat lebih dari 7.000 tahun yang lalu. Bukti arkeologis awal ditemukan di situs pemakaman Neolitik dekat Barcelona. Dalam catatan sejarah, orang -orang Yunani kuno mengklaim bahwa opium pertama kali ditemukan oleh Dewi Demeter.
Baca Juga: Polisi Menyelidiki Pembelian Online Narkotika LSD oleh Jeff Smith
Dalam perkembangannya, para sarjana Arab memainkan peran penting dalam membuat opium sebagai bagian dari perawatan medis, terutama sebagai analgesik dan anestesi.
Pada masa kejayaan kekhalifahan abbasi, opium digunakan dalam bentuk pil dan salep untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk kusta. Angka medis seperti al-Kindi dan al-Razi memberikan kontribusi besar untuk penggunaan opium secara medis, termasuk dosis perekaman dan teknik penggunaannya sebagai anestesi umum.
Penggunaan opium kemudian menyebar ke Kekaisaran Persia dan Mughal. Faktanya, Kaisar Jahangir dari dinasti Mughal dikenal sebagai pengguna opium dan anggur yang berat, yang menyebabkan ketidakmampuannya menjalankan pemerintah.
Pada abad ke -17, opium sekali lagi populer di Eropa melalui Laudanum, solusi opium dalam alkohol yang dikembangkan oleh dokter Inggris Thomas Sydenham. Dia menyatakan bahwa tidak ada obat lain yang semanjur dan opium universal dalam meringankan dan menyembuhkan berbagai penyakit.
Membentuk dan penyalahgunaan opium
Opium dapat dikonsumsi dalam berbagai bentuk, seperti disedot (Merokok), disuntikkan secara intravena, atau ditelan dalam bentuk pil. Penyalahgunaan opium juga sering melibatkan kombinasi dengan zat lain, seperti “Hitam“(Asosiasi Cannabis, Opium, dan Metamfetamine) atau”Budha“(Ganja dicampur dengan opium).
Secara fisik, tanaman opium memiliki ketinggian sekitar satu meter, dengan daun berbentuk JoRong dan bunga putih atau ungu yang tumbuh di ujung tangkai. Meskipun terlihat indah dan sering digunakan sebagai tanaman hias, buah tanaman ini menyimpan zat alkaloid yang sangat kuat, seperti morfin, kodein, dan heroin.
Baca Juga: Bnn mengungkapkan dua WNA yang terlibat sirkulasi narkotika HASIS di Bali
Dampak dan bahaya opium
Opium memberikan efek euforia atau perasaan senang yang tinggi dalam waktu singkat, disertai dengan rasa rileks dan kehilangan rasa sakit. Namun, efek ini juga membawa risiko besar bagi tubuh, termasuk:
- Ketergantungan fisik dan psikologis
- Konstipasi kronis karena gangguan dengan otot usus
- Mulut dan hidung kering
- Risiko overdosis yang bisa berakibat fatal
Gejala overdosis opium termasuk pernapasan lambat, kejang, pusing, kelemahan ekstrem, kehilangan kesadaran, koma, sampai mati.
Penanggulangan dan Pendidikan
Penyalahgunaan opium adalah masalah serius yang membutuhkan perawatan komprehensif, mulai dari pendidikan, pencegahan, hingga rehabilitasi bagi para korban. Pemerintah dan lembaga terkait terus mencoba membatasi sirkulasi narkotika, termasuk yang didasarkan pada opium, melalui pendekatan kesehatan dan kesehatan masyarakat.
Komunitas ini disarankan untuk lebih sadar akan bahaya narkotika, serta memahami bahwa tidak semua yang terlihat indah dapat membawa baik. Opium adalah contoh nyata bagaimana tanaman yang menawan dapat berubah menjadi ancaman kesehatan ketika disalahgunakan.
Baca Juga: BNN: NPS NPS Narkotika Baru Menjadi Perhatian Khusus untuk Langkah -langkah Pencegahan
Baca Juga: Jenis Narkotika dan Obat yang Harus Dihindari
Reporter: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Hak Cipta © antara 2025
RakyatPos Irian










