Jakarta (-) – Perpustakaan Provinsi DKI Jakarta dan Kantor Arsip mengusulkan naskah Pecenongan ke dalam salah satu kenangan kolektif nasional Jakarta dan bahkan warisan dokumenter dunia atau “memori dunia” (MOW) UNESCO.
“DKI DispUSIP berkolaborasi dengan Perpustakaan Nasional untuk mengusulkan manuskrip Pecenongan sebagai memori kolektif nasional DKI Jakarta,” kata kepala kantor Perpustakaan dan Arsip Provinsi Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ini disampaikan dalam aktivitas “mengeksplorasi potensi naskah Nusantara kuno sebagai kenangan kolektif nasional” di Jakarta pada hari Rabu.
Sejumlah manfaat jika naskah ini termasuk dalam MOW UNESCO, yang dapat menjadi pengingat historis bagi masyarakat, memperkuat identitas dan kesinambungan bangsa di masa depan dan melindungi dan melestarikan warisan dokumenter dengan aksesibilitas universal dan permanen.
Naskah Pecenongan adalah salah satu warisan dokumenter DKI Jakarta yang diwarisi dari sosok Muhammad Bakir dari abad ke -19 hingga ke -20.
Baca Juga: Jakarta Menjadi Prioritas Prioritas Program Memori Kolektif Nasional
Teks ini berisi dinamika budaya dan ilmiah di Batavia di masa lalu. Semua manuskrip Pecenongan ditulis tangan menggunakan bahasa Melayu yang membaca Jawi.
Wilayah Pecenongan, terutama Langgar Tinggi dan Pekojan, adalah tempat paling produktif untuk memproduksi karya dengan pola Betawi.
“Ini adalah kewajiban pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk melestarikan teks -teks kuno,” kata Nasruddin.
Pemerintah provinsi DKI Jakarta mendaftarkan manuskrip Nusantara kuno di Perpustakaan Nasional dalam konteks penyimpanan, perawatan, melestarikan dan memanfaatkan serta menyimpan manuskrip dari ancaman bahaya.
Baca Juga: Pengunjung Bangkit Perpustakaan Tim Jassin & HB setelah jam buka diperpanjang
Dia mengatakan, sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Jakarta selalu menjadi titik pertemuan berbagai budaya dan kebiasaan. Oleh karena itu, pelestarian dan penggunaan naskah kuno perlu dieksplorasi.
Ini karena pelestarian manuskrip kuno penting sebagai warisan budaya dan memastikan bahwa orang -orang Jakarta dapat memanfaatkan dan belajar dari kekayaan sejarah dan budaya di kota mereka.
Dia percaya penggunaan kekayaan naskah di DKI Jakarta terbuka dengan yang luas dan bahkan mungkin diakui di tingkat asing.
“Oleh karena itu kami memulai naskah ini melalui National Collective Memory (IKON). Karena kemudian kami bercita -cita untuk naskah di Jakarta dapat menjadi salah satu Mow UNESCO,” katanya.
Reporter: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Sri Muryono
Hak Cipta © antara 2025
RakyatPos Irian










