Prestasi ini merupakan dorongan positif untuk keberlanjutan industri baja domestik.
Jakarta (-) – Praktik keberlanjutan atau “keberlanjutan” dari produsen baja nasional PT Gunung Raja Paksi TBK (GRP) telah menerima pengakuan dari CDP, sebuah organisasi nirlaba global yang mengelola sistem pelaporan lingkungan terkemuka di dunia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Direktur Presiden GRP Fededus, pengakuan diberikan terkait dengan peningkatan skor perubahan iklim dari C pada tahun 2023 ke B- dalam siklus pengungkapan untuk periode 2024. Seperti yang tercantum dalam data skor CDP, ditempatkan GRP di atas rata -rata global.
“Prestasi ini merupakan dorongan positif untuk keberlanjutan industri baja domestik. Kami percaya bahwa pemain industri nasional memiliki kapasitas untuk terus meningkatkan standar keberlanjutan,” katanya dalam pernyataannya di Jakarta pada hari Kamis.
Hasil pencapaian ini, katanya, juga memberikan sinyal bahwa langkah -langkah yang telah dilalui perusahaan berada di jalur yang benar, dan partainya akan terus mencoba beradaptasi bersama dengan pengembangan standar keberlanjutan global.
Untuk lebih selaras dengan persyaratan dan kriteria untuk pengungkapan CDP yang ketat, Fededus menyatakan, GRP berkontribusi aktif dalam membantu pembentukan kebijakan nasional Indonesia.
Menurut catatan perusahaan, dalam hal ini kerja sama dilakukan dengan Kementerian Industri dalam Pengembangan Standar Industri Hijau dan dengan Kementerian Perdagangan terkait dengan mekanisme Mekanisme Penyesuaian Perbatasan Karbon (CBAM).
Sebagai bagian dari pengembangan dan implementasi strategi dekarbonisasi GRP, ia juga mengatakan, perusahaan telah berkolaborasi dengan International Finance Corporation (IFC), anggota kelompok Bank Dunia.
IFC telah menyediakan layanan konsultasi kepada GRP yang menghasilkan serangkaian inisiatif dan lokakarya untuk memperkuat strategi dekarbonisasi perusahaan dan implementasinya berdasarkan praktik global terbaik.
Produsen baja juga membuat proses operasional yang rendah dari emisi karbon sebagai inti dari pendekatan bisnis perusahaan. Ini dilakukan, antara lain, menggunakan teknologi Electric Arc Furnace (EAF) dan bahan baku memo, yang secara signifikan menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah daripada metode konvensional.
Selain itu, melalui penguatan pengungkapan risiko transparan, keterlibatan aktif dalam kebijakan publik, kolaborasi industri, dan tata kelola yang kuat, GRP juga membangun fondasi yang kuat untuk mencapai kemajuan lebih lanjut dalam target dekarbonisasi perusahaan.
Menurut Kepala Petugas Transformasi GRP Kelvin Fu, peningkatan skor CDP mencerminkan pengakuan internasional tentang meningkatnya harmoni GRP dengan praktik global terbaik.
Di tengah meningkatnya tuntutan global pada dekarbonisasi dan akuntabilitas di industri baja, ia juga mengatakan, peningkatan skor CDP memperkuat peran GRP sebagai dorongan industri.
“Kami terus menunjukkan kemajuan positif dalam mengintegrasikan pertimbangan iklim ke dalam strategi bisnis dan manajemen risiko, seperti yang harus dilakukan oleh semua perusahaan,” katanya lagi.
Dia menambahkan, bersama dengan transformasi global industri baja, skor CDP menjadi tolok ukur untuk kredibilitas dan komitmen perusahaan. Perusahaan akan terus fokus pada orientasi masa depan, dengan terus berinvestasi dalam teknologi rendah karbon dan menjunjung tinggi standar lingkungan internasional.
“Setiap langkah yang diambil oleh perusahaan diarahkan untuk membangun industri baja yang lebih hijau dan kompetitif untuk Indonesia dan dunia,” katanya.
Baca juga: GRP menerapkan sejumlah strategi untuk menghadapi peningkatan baja impor
Baca Juga: Kadin: Industri Baja Nasional Membutuhkan Dukungan agar tidak terkikis
Reporter: Subagyo
Editor: Budisantoso Budiman
Hak Cipta © antara 2025
RakyatPos Irian










