Tradisi “Ninjau Haji” di Jembrana Bertahan Hidup Silang -Generasi

- Jurnalis

Selasa, 27 Mei 2025 - 00:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Negara (-) – Tradisi ziarah atau memberikan kepergian haji di Kabupaten Jembrana, Bali, selamat dari generasi silang, bahkan dianggap sebagai “Idul Fitri” ketiga untuk Muslim di daerah setempat.

Musadat Johar, Kampung Loloan Budaya, Kabupaten Jembrana, masih ingat sebagai seorang anak, salah satu momen yang dia tunggu adalah ninjau haji.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk anak -anak, ziarah dilakukan pada hari yang sama dengan kepergian para peziarah, ziarah berarti mereka akan diundang untuk bepergian, serta rekreasi oleh orang tua mereka.

“Selama anak -anak saya, lokasi terjauh Ninisji Haji tiba di Gilimanuk. Dengan bus dan kondisi jalan pada waktu itu, jaraknya sangat jauh,” kata pria yang berusia lebih dari 60 tahun.

Jika diterjemahkan secara bebas, ziarah berasal dari orang Melayu lokal yang dapat ditafsirkan untuk memberikan kepergian peziarah.

Bahasa Melayu dan Aksen adalah bahasa sosial harian dari mayoritas Muslim di Kabupaten Jembrana, yang dikenal sebagai “bahasa desa”.

Akar bahasa dan aksen Melayu ini, berasal dari suku Bugis, yang membuka desa Muslim pertama di Jembrana ratusan tahun yang lalu di wilayah tersebut, seperti dari hadiah raja setempat, pada waktu itu.

Meskipun arti ziarah adalah untuk memberikan keberangkatan ziarah, sebagian besar orang yang memberikan tidak datang ke pusat keberangkatan haji di kota Negara, ibukota Kabupaten Jembrana.

Ketika para peziarah berpartisipasi dalam upacara pelepasan upacara di masjid masing -masing desa, pelepasan tingkat distrik di kota negara bagian, kemudian berangkat dengan bus ke asrama haji di Surabaya, provinsi Jawa Timur, sebagian besar orang yang meninjau haji tidak berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Ketika para peziarah peziarah menuju dan mengikuti upacara keberangkatan, pada saat yang sama penduduk yang meninjau ziarah juga segera pergi ke lokasi yang telah direncanakan untuk bepergian, terlepas dari peziarah upacara.

Dengan berbagai moda transportasi yang didominasi oleh sepeda motor, Muslim menuju ke berbagai arah, terutama ke tempat -tempat wisata.

Tidak hanya di Kabupaten Jembrana, biasanya kelompok yang meninjau ziarah juga mengemas situs wisata di Kabupaten Buleleng, seperti Labuhan Lalang, Banyuwedang, ke Pulaki.

Bahkan, bagi kaum muda, menyeberang ke Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, menjadi tujuan yang keren ketika Ninjau Haji.

Editor: Masukkan M. Astro
Hak Cipta © antara 2025

RakyatPos Irian

Berita Terkait

Bupati Muara Enim Masih Diperiksa KPK di Sumsel, Besok Dibawa ke Jakarta
Golkar Sangat Prihatin Bupati Muara Enim Kena OTT KPK
KPK juga tengah mendalami kasus MBG, dan akan menggelar gelar perkara untuk mengetahui kelanjutannya
Polisi Ungkap Kronologi Meninggalnya Ibu Aminah Usai Makan Sate Beracun dari Menantunya
Wabah Ebola: Pembatasan perjalanan apa yang diberlakukan oleh negara-negara?
Fenomena langka Blue Moon pada 31 Mei bisa disaksikan dari Indonesia, perhatikan waktunya
Berita Terkini, Berita Terkini di Indonesia dan Dunia | tempo.co
Ikatan Keluarga Minang Nilai Klarifikasi Abu Janda Malah Memperluas Isu Intoleransi

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 16:35 WIB

Bupati Muara Enim Masih Diperiksa KPK di Sumsel, Besok Dibawa ke Jakarta

Senin, 8 Juni 2026 - 16:29 WIB

Golkar Sangat Prihatin Bupati Muara Enim Kena OTT KPK

Senin, 8 Juni 2026 - 16:29 WIB

KPK juga tengah mendalami kasus MBG, dan akan menggelar gelar perkara untuk mengetahui kelanjutannya

Senin, 8 Juni 2026 - 16:26 WIB

Polisi Ungkap Kronologi Meninggalnya Ibu Aminah Usai Makan Sate Beracun dari Menantunya

Kamis, 28 Mei 2026 - 07:19 WIB

Wabah Ebola: Pembatasan perjalanan apa yang diberlakukan oleh negara-negara?

Berita Terbaru

Berita

Golkar Sangat Prihatin Bupati Muara Enim Kena OTT KPK

Senin, 8 Jun 2026 - 16:29 WIB