Samarinda (-) – Program demam demam berdarah (DHF) yang telah dilaksanakan oleh pemerintah provinsi Kalimantan Timur (Kalimantan Timur) menerima apresiasi dari empat negara di Asia, yaitu Singapura, Malaysia, Thailand dan Jepang.
Kepala Kantor Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes) East Kalimantan Mualimin di Samarinda pada hari Sabtu mengungkapkan bahwa keberhasilan program ini telah menarik perhatian asing.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Vaksinasi DHF kami telah dihargai oleh dunia internasional. Buktinya, kami diundang ke Singapura pada bulan Februari untuk menyampaikan bagaimana program ini berjalan,” katanya.
Selain itu, Jaya mengatakan bahwa setelah Singapura, pestanya juga dijadwalkan menjadi pembicara tamu di Penang (Malaysia) pada bulan Oktober.
Baca Juga: DHF merekam 1.375 case
Baca Juga: Vaksinasi Dengue Kalimantan Timur Menjadi Inspirasi untuk Kerjasama dengan Selangor
“Selanjutnya, Thailand dan Jepang juga tertarik untuk mengundang kami. Ini karena Kalimantan Timur adalah contoh yang baik dalam implementasi vaksinasi DHF,” katanya.
Jaya menjelaskan bahwa undangan dari empat negara adalah kesempatan untuk berbagi pengalaman tentang ide -ide awal untuk keberhasilan implementasi vaksinasi DHF di Kalimantan Timur.
Saat ini, Program Vaksinasi DHF di Kalimantan Timur telah berjalan di kota -kota Samarinda dan Balikpapan, dan akan diperluas ke Kabupaten Kutai Kartanegara tahun ini.
“Dengan vaksinasi ini, kita dapat mengurangi jumlah rawat inap karena DHF. Selama hampir dua tahun, mereka yang telah divaksinasi tidak pernah diserang oleh DHF, menunjukkan program ini berjalan secara efektif,” katanya.
Kantor Kesehatan Kalimantan Timur sendiri menargetkan anak -anak sekolah dalam program vaksinasi DHF. Jaya menjelaskan bahwa pemilihan kelompok usia didasarkan pada data kasus DHF yang menunjukkan penularan potensial tinggi ketika anak -anak berada di lingkungan sekolah.
“Nyamuk Aedes Aegypti, pembawa virus DHF, secara aktif menggigit di pagi hari ke malam hari,” katanya.
Jaya juga menyoroti perbedaan dalam strategi penanganan DHF di Kalimantan Timur dengan negara -negara lain. Dia mengutip Singapura yang masih mengandalkan metode 3m Plus dan teknologi Wolbachia.
“Di Singapura, Wolbachia telah diterapkan selama 15 tahun, tetapi dianggap kurang efektif dibandingkan dengan vaksinasi,” kata Jaya.*
Baca Juga: Tidak Ada Kipi Serius dalam Vaksinasi DHF di Kalimantan Timur
Baca Juga: Pemerintah Selangor Malaysia Mempelajari Studi Penanganan DHF di Kalimantan Timur
Pewarta: Ahmad Rifandi
Editor: Erafzon Saptiyulda As
Hak Cipta © antara 2025
RakyatPos Irian










