Prasyarat untuk Indonesia menjadi negara maju

- Jurnalis

Kamis, 1 Mei 2025 - 02:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Transformasi ke negara yang berpenghasilan tinggi bukanlah narasi retoris yang dapat dijual dalam kampanye politik

JAKARTA (-) – Untuk membayangkan Indonesia sebagai negara berpenghasilan tinggi pada tahun 2045 bukan hanya permainan angka dalam proyeksi ekonomi makro.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini adalah tantangan bagi peradaban yang menuntut lompatan struktural, bukan hanya pertumbuhan bertahap.

Laporan Terbaru Institut Global McKinsey Memberikan peta jalan yang masuk akal dan konkret, tetapi keberhasilannya akan sangat tergantung pada keseriusan dan keberanian dalam mengatur ulang dasar pembangunan ekonomi nasional.

Kuncinya terletak pada dua hal, yaitu peningkatan radikal dalam produktivitas dan penciptaan ekosistem yang memungkinkan kelahiran perusahaan menengah dan besar tiga kali lebih banyak.

Dalam sebuah laporan berjudul Kepulauan yang giat: mendorong produktivitas IndonesiaAda dua faktor utama yang dapat menjadi referensi bagi Indonesia untuk mencapai tujuan menjadi negara yang berpenghasilan tinggi, yaitu pertumbuhan rasio antara modal dengan jumlah pekerja (modal per pekerja), atau disebut pendalaman modal. Selain itu, sektor bisnis yang lebih kompetitif yang dapat mencetak lebih banyak perusahaan menengah dan besar.

Sebagai ekonomi terbesar ke -16 di dunia, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan skala. Pertanyaan utamanya adalah apakah skala dapat dikonversi menjadi gaya produktif yang unggul.

Indonesia telah mengambil langkah besar untuk mengurangi kemiskinan ekstrem sejak 1980.

Untuk beralih ke status status Berpenghasilan tinggiIndonesia harus dapat meningkatkan pertumbuhan produktivitas (output per pekerja) tahunan yang sejak tahun 2000 mencapai 3,1 persen menjadi 4,9 persen. Karena negara-negara dengan status penjualan tinggi ditandai oleh pendapatan per kapita setidaknya 14.000 dolar AS.

Ini bukan hanya masalah efisiensi kerja, tetapi juga tentang bagaimana menghasilkan nilai tambah dalam rantai ekonomi yang semakin kompleks dan kompetitif.

Dalam konteks ini, peran perusahaan menjadi vital. Bukan sembarang perusahaan, tetapi perusahaan yang memiliki kapasitas untuk tumbuh, mengadopsi teknologi, menciptakan pekerjaan berkualitas, dan memperluas di seluruh sektor dan wilayah.

Tidak adanya perusahaan besar yang memadai di Indonesia tidak hanya masalah jumlah, tetapi juga cerminan dari kelemahan struktur insentif ekonomi nasional.

Banyak usaha kecil tetap kecil karena sistem tidak memungkinkan mereka untuk tumbuh. Terlalu banyak hambatan administratif, pembiayaan terbatas, dan perubahan peraturan, menciptakan ekosistem yang membuat bisnis berskala besar secara eksklusif untuk beberapa partai.

Jadi, target untuk melipatgandakan jumlah perusahaan besar bukan hanya ambisi kuantitatif. Ini adalah seruan untuk revolusi kelembagaan di mana birokrasi tidak lagi menjadi beban Enabler (Pemberi dukungan) Pertumbuhan.

Mitra senior McKinsey dan Direktur MGI, Chris Bradley, mengatakan bahwa Indonesia harus meningkatkan jumlah perusahaan menengah dan besar sebanyak tiga kali, sehingga menciptakan lapangan kerja berkualitas lebih tinggi, dan mendorong pertumbuhan berbagai sektor nilai tambah, “di samping manufaktur dan pertanian, bagian terbesar dari nilai tambah cenderung berasal dari sektor yang berasal dari sektor layanan,” katanya.

Baca Juga: Pemerintah Menambahkan Tiga Subsektor Ekonomi Kreatif Baru

Lima modal

Managing Partner, McKinsey & Company, Indonesia Khoon Tee Tan mengatakan, dalam upaya untuk mencapai status ekonomi penjualan tinggi, Indonesia perlu memperkuat lima modal, termasuk sistem keuangan yang kuat, sistem pendidikan yang kuat, peraturan dan kebijakan kegiatan bisnis yang mudah, infrastruktur kelas dunia, dan ekosistem yang mendukung perusahaan baru dan perusahaan kecil.

“Dengan berfokus pada bidang -bidang ini, Indonesia dapat membangun kondisi yang mendukung pertumbuhan produktivitas yang lebih tinggi,” katanya.

Lima jenis modal yang disorot oleh McKinsey dalam laporan ini sebenarnya bukan konsep baru. Kekuatan laporan ini terletak pada penekanan bahwa lima modal harus bekerja secara bersamaan, bukan sebagian.

Modal keuangan, misalnya, didominasi terlalu lama oleh sektor perbankan dengan pola konservatif yang tidak selaras dengan kebutuhan dunia bisnis modern.

Kredit pribadi yang rendah dan pasar modal dangkal membuat banyak perusahaan perintis yang stagnan sebelum mereka bisa tumbuh.

Tanpa dalam reformasi yang lebih baik dari struktur pembiayaan dan insentif fiskal progresif, pertumbuhan perusahaan akan terus disandera.

Sumber daya manusia juga membutuhkan pendekatan yang jauh lebih strategis daripada hanya memperluas akses ke pendidikan.

Tantangan sebenarnya adalah ketidakcocokan keterampilan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.

Negara ini tidak hanya membutuhkan tenaga kerja yang lebih berpendidikan, tetapi juga tenaga kerja yang fleksibel, adaptif, dan kreatif.

Keterampilan yang cocok Apa yang buruk akan terus menjadi batu sandungan jika pendidikan tinggi terus berjuang pada kurikulum yang sudah ketinggalan zaman dan terlepas dari realitas pasar.

Modal institusional adalah tes terbesar untuk komitmen reformasi. Undang -undang dan peraturan yang tidak sinkron, proses perizinan yang lambat, dan ketidakpastian hukum adalah penyebab stagnasi investasi.

Jika Indonesia ingin menjadi magnet investasi global, penyederhanaan birokrasi tidak hanya masalah mempercepat layanan, tetapi juga tentang membangun kepercayaan.

Dunia bisnis harus percaya bahwa aturannya akan konsisten, bahwa negara adalah mitra yang dapat diandalkan, bukan ancaman yang tidak terduga.

Infrastruktur dan konektivitas juga harus dibaca dalam spektrum yang lebih luas daripada hanya membangun jalan dan pelabuhan.

Digital Infrastructure adalah tulang punggung ekonomi baru, dan kesenjangan akses internet yang luas akan menciptakan jurang baru antara aktor bisnis di kota -kota besar dan daerah yang kurang beruntung.

Pengembangan harus inklusif spasial dan digital, jika Anda tidak ingin potensi di luar Java terus ditinggalkan dan terpinggirkan.

Akhirnya, tetapi tidak kalah pentingnya, adalah modal wirausaha. Indonesia memiliki semangat kewirausahaan yang hebat, tetapi tanpa dukungan sistemik, mudah untuk keluar.

Perlu ada mekanisme pendanaan inovatif seperti modal ventura dan ekuitas swasta yang dapat mengakomodasi risiko dan membantu pertumbuhan.

Pemerintah juga harus berhenti melihat start-up sebagai simbol gaya hidup digital saja, tetapi sebagai tulang punggung ekonomi masa depan.

Transformasi ke negara -negara tinggi bukanlah narasi retoris yang dapat dijual dalam kampanye politik. Ini adalah proses yang menyakitkan, penuh dengan negosiasi, dan menuntut keberanian dalam membuat keputusan yang tidak populer.

Membiarkan sektor yang tidak efisien hidup karena pertimbangan politik itu kontraproduktif. Mengabaikan inovasi dan mempertahankan status quo birokrasi adalah sabotase terhadap generasi mendatang.

Sebaliknya, menyediakan ruang untuk dinamika bisnis yang sehat, mendukung perluasan perusahaan lokal untuk menembus pasar global, dan menciptakan iklim bisnis yang kompetitif, adalah jalan menuju masa depan yang layak diperjuangkan.

Jika Indonesia mampu menciptakan keseimbangan antara peran strategis negara dan dinamika pasar yang sehat, maka status negara yang berpenghasilan tinggi bukan lagi mimpi di akhir cakrawala, tetapi suatu keharusan yang hanya menunggu eksekusi yang cerdas dan konsisten.

Baca Juga: Gubernur BI: Investor Global Optimis tentang Ekonomi Indonesia

Baca Juga: Ekonom: Profil Indonesia di Dunia Internasional diwakili

Baca Juga: Survei: Konsumen tetap optimis tentang ekonomi Indonesia pada bulan Maret

Hak Cipta © antara 2025

RakyatPos Irian

Berita Terkait

Bupati Muara Enim Masih Diperiksa KPK di Sumsel, Besok Dibawa ke Jakarta
Golkar Sangat Prihatin Bupati Muara Enim Kena OTT KPK
KPK juga tengah mendalami kasus MBG, dan akan menggelar gelar perkara untuk mengetahui kelanjutannya
Polisi Ungkap Kronologi Meninggalnya Ibu Aminah Usai Makan Sate Beracun dari Menantunya
Wabah Ebola: Pembatasan perjalanan apa yang diberlakukan oleh negara-negara?
Fenomena langka Blue Moon pada 31 Mei bisa disaksikan dari Indonesia, perhatikan waktunya
Berita Terkini, Berita Terkini di Indonesia dan Dunia | tempo.co
Ikatan Keluarga Minang Nilai Klarifikasi Abu Janda Malah Memperluas Isu Intoleransi

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 16:35 WIB

Bupati Muara Enim Masih Diperiksa KPK di Sumsel, Besok Dibawa ke Jakarta

Senin, 8 Juni 2026 - 16:29 WIB

Golkar Sangat Prihatin Bupati Muara Enim Kena OTT KPK

Senin, 8 Juni 2026 - 16:29 WIB

KPK juga tengah mendalami kasus MBG, dan akan menggelar gelar perkara untuk mengetahui kelanjutannya

Senin, 8 Juni 2026 - 16:26 WIB

Polisi Ungkap Kronologi Meninggalnya Ibu Aminah Usai Makan Sate Beracun dari Menantunya

Kamis, 28 Mei 2026 - 07:19 WIB

Wabah Ebola: Pembatasan perjalanan apa yang diberlakukan oleh negara-negara?

Berita Terbaru

Berita

Golkar Sangat Prihatin Bupati Muara Enim Kena OTT KPK

Senin, 8 Jun 2026 - 16:29 WIB