JAKARTA (-) – Menteri Dalam Negeri (Menteri Dalam Negeri) Muhammad Tito Karnavian secara resmi meresmikan Halilul Khairi sebagai Kanselir Institut Pemerintah Domestik (IPDN) di Ruang Pengadilan Utama (RSU), Kementerian Urusan Dalam Negeri (Pertendagri), Jakarter, Jakar.
Tito mengatakan bahwa penunjukan ini telah lulus uji seleksi dan kelayakan yang komprehensif. Halilul, bersama dengan tiga kandidat kuat lainnya, juga menjalani wawancara langsung dengan Menteri Dalam Negeri sebelum akhirnya terpilih.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kanselir baru, Tn. Dr. Halilul Khairi, M.Sc, Hadirin dan Tuan -tuan, hari ini kita akan melakukan acara yang kita lihat sederhana, tetapi sangat penting dan sangat berpengaruh untuk IPDN khususnya dan juga Kementerian Dalam Negeri, dan juga untuk ASN,” katanya dalam pernyataannya di Jakarta pada hari Senin.
Dia menekankan bahwa IPDN adalah pusat keunggulan di bidang sains pemerintah yang silang -disiplin. Dari lembaga ini, diharapkan bahwa kandidat birokrat yang unggul akan dilahirkan yang merupakan harapan akan reformasi birokrasi di masa depan.
Dia menekankan pentingnya peran IPDN dalam agen cetak perubahan untuk pengembangan peralatan sipil negara (ASN) yang saat ini berjumlah lebih dari empat juta orang.
Menurutnya, perubahan budaya birokrasi hanya dapat terjadi jika ada kelompok kecil yang dapat menjadi transformasi sepeda motor. Dalam konteks ini, IPDN adalah lembaga strategis untuk mewujudkan perubahan di masa depan.
“Jika ASN, yang lebih dari empat juta orang, mengubah budaya yang lebih baik, reformasi budaya, itu akan dapat mempengaruhi masyarakat. Mengapa? Karena para birokrat adalah pembuat kebijakan,” katanya.
Tito menyatakan harapannya bahwa IPDN tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai lembaga think tank yang mampu memberikan masukan berbasis penelitian kepada Kementerian Dalam Negeri dan lembaga pemerintah lainnya, baik di tingkat pusat maupun regional.
Dia menekankan bahwa pembuatan kebijakan harus didasarkan pada penelitian dan pendekatan ilmiah. Seperti kata sosiolog Joseph Stycos, teori tanpa implementasi kebijakan hanya menjadi wacana akademik di menara gading, sementara kebijakan tanpa fondasi ilmiah adalah perjudian atau keuntungan.
Oleh karena itu, teori dan kebijakan harus berjalan seiring. “Yang terbaik adalah membuat kebijakan berdasarkan penelitian, penelitian yang diuji, jadi kami tidak mendapat untung. Ini adalah inti dari institusi akademik,” jelas Tito.
Tito juga menyatakan visinya untuk mendorong sebanyak mungkin lulusan IPDN untuk mengambil pendidikan lebih lanjut di luar negeri melalui program beasiswa, seperti The Education Fund Management Institute (LPDP). Tujuannya adalah untuk membentuk pelaku birokrasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan di bidang pemerintahan, tetapi juga memiliki jaringan internasional, serta budaya budaya yang dapat diadaptasi di Indonesia.
“Saya ingin mengirim sebanyak mungkin lulusan IPDN untuk pergi ke luar negeri melalui program LPDP. Tujuan saya adalah, saya melihat bahwa jika kita ingin membuat revolusi mental atau perubahan budaya di Indonesia, maka harus ada agen perubahan,” katanya.
Dia memberikan contoh keberhasilan negara bagian Singapura dan Cina dalam membangun Sumber Daya Manusia Superior (SDM) melalui pengiriman siswa di luar negeri. Singapura mengirimkan bakat terbaiknya ke kampus -kampus terkemuka dunia melalui beasiswa, seperti beasiswa presiden.
Sementara itu, Cina telah memetakan benih superior sejak tingkat sekolah menengah pertama dan mengirim mereka ke negara -negara maju untuk menjadi kekuatan pendorong transformasi saat kembali.
“Begitu gelombang ini kembali ribuan ke Cina ada perubahan luar biasa, serta kualitas pendidikan mereka. Mereka adalah sepeda motor untuk perubahan revolusi mental serta perubahan dalam revolusi dengan teknologi. Kita melihat sekarang teknologi di Cina luar biasa,” tito menyimpulkan.
Baca Juga: Menteri Dalam Negeri meminta lulusan IPDN untuk menjadi birokrat pemerintah profesional
Baca Juga: Kelulusan IPDN 1.221 Praja yang siap bekerja di seluruh Indonesia
Reporter: Narda Margaretha Sinambela
Editor: Budi Suyanto
Hak Cipta © antara 2025
RakyatPos Irian










