Jakarta (-) – Kementerian Mikro, Kecil dan Medium Enterprises (UMKM) bersama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) secara resmi meluncurkan program akselerasi Ekspor Penciptaan Indonesia 2025 untuk mempercepat ekspor produk -produk kreatif berdasarkan UMKM serta memperkuat Yayasan Ekonomi Nasional melalui Diplomasi Kreatif.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman, dalam sambutannya pada peluncuran aksi 2025 di Jakarta pada hari Senin, mengkonfirmasi bahwa ekonomi kreatif dan MSM adalah dua wajah dari satu semangat, yaitu kemerdekaan dan inovasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dia menyoroti potensi besar produk kreatif Indonesia yang memiliki daya saing tinggi di pasar global berkat budaya dan keunikan mereka. Namun, ia juga menekankan bahwa produk -produk ini membutuhkan dukungan penuh untuk dapat bersaing secara berkelanjutan.
“Pengusaha kreatif membutuhkan ekosistem mendukung, mulai dari kurasi bantuan, peningkatan kapasitas ekspor, akses pembiayaan, hingga jaringan global. Kolaborasi tindakan ini adalah bentuk konkret dari sinergi pemerintah dalam mendukung UMKM kreatif untuk naik kelas,” Maman dikutip dengan mengatakan dengan siaran pers dari kementeriannya.
Program Tindakan 2025 ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara kedua kementerian, yang diharapkan menjadi langkah pertama dalam diplomasi ekonomi berdasarkan produk kreatif dan MSM.
“Melalui kolaborasi ini, diharapkan tidak akan ada fasilitator ekspor, tetapi juga memotivasi bahwa ekspor dapat dimulai bahkan dari skala usaha mikro dan kecil. Kami siap untuk mendukung dari sisi pelatihan, akses pasar, untuk memperkuat ekosistem digital,” kata Maman.
Dengan semangat kolaborasi silang, Maman menyatakan bahwa Indonesia kini telah melangkah lebih kuat ke arah visi tersebut sebagai pusat ekonomi kreatif global berbasis budaya yang inklusif, dan didukung oleh kekuatan UMKM Nasional.
Selain berfokus pada ekspor, ia juga menyoroti pentingnya diversifikasi pasar. Menurutnya, meskipun ekspor sangat vital, pasar domestik Indonesia yang besar juga harus digunakan secara optimal.
Selain itu, ia menyampaikan salah satu terobosan penting dalam mengakses pembiayaan untuk aktivis ekonomi kreatif berdasarkan UMKM adalah untuk mendorong penggunaan kekayaan intelektual (IPR) sebagai jaminan kredit. Menurutnya, ini adalah upaya konkret untuk mengenali nilai ekonomi dari ide dan kreativitas.
“Konsep yang bagus, ide yang brilian, harus dilihat sebagai aset. Di negara kita, pendekatan ini masih belum optimal. Faktanya, misalnya karakter antek, nilainya hanya terlihat ketika berhasil dikembangkan dan diterima oleh pasar global. Inilah yang ingin kita dorong bersama,” pungkasnya.
Baca Juga: KKP Bantuan Ikan Ikan Ikut Memroses Sertifikasi HACCP Untuk Ekspor
Baca Juga: Menteri Perdagangan: Asia dan Arab Saudi adalah negara tujuan utama untuk ekspor UMKM
Baca Juga: Pemerintah menjalankan Asik untuk meningkatkan ekspor produk kreatif
Reporter: Shofi Ayudiana
Editor: Biqwanto Situmorang
Hak Cipta © antara 2025
RakyatPos Irian










