Jakarta (-) – Badan geologi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memperingatkan potensi pergerakan tanah berisiko tinggi untuk mengancam keselamatan penduduk dan merusak infrastruktur vital di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
“Gerakan tanah masih memiliki potensi untuk berkembang, terutama jika ada hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama,” kata Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid dalam pernyataannya di Jakarta pada hari Jumat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Peringatan itu disampaikan berdasarkan hasil pemeriksaan vulkanologi dan tim mitigasi bencana geologi (PVMBG) dari Badan Geologi pada 5-7 Mei, di desa Benteng Riwu, yang termasuk desa Kampung Nawang dan Kenkel.
Pergerakan tanah dalam bentuk sektor -sektor yang disertai dengan retakan memanjang memiliki dampak langsung pada 18 kepala keluarga (KK), sementara 72 KK lainnya berada di zona yang rentan dan harus dievakuasi.
Baca Juga: Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur Mendistribusikan Bantuan untuk Korban Gerakan Tanah
Baca Juga: Tanah Longsor Menyebabkan Kemacetan di Jalan Nasional Ruteng-Reo-Kedindi
Sebanyak 12 rumah retakan dinding yang berpengalaman, jalan -jalan desa terancam putus karena patah tulang yang memotong mayat jalan, serta sawah dan perkebunan rusak.
“Kegiatan penghuni, terutama di ladang dan dekat lokasi bencana harus sangat berhati -hati. Jika retakan terus tumbuh, penduduk yang terpengaruh perlu segera mengevakuasi dan dipindahkan,” katanya.
Berdasarkan pengamatan ahli geologi, lokasi bencana berada di lereng bukit curam dengan tanah dari batu andesit pelapukan yang mudah jenuh dan rentan terhadap tanah longsor. Sistem drainase yang tidak terorganisir memperburuk risiko, karena air hujan merembes ke tanah dan memicu melemahnya struktur lereng.
Pergerakan tanah pertama dilaporkan terjadi sejak 15 Januari 2024. Namun, retakan baru dengan panjang antara 2-10 meter dan lebar 3-10 sentimeter terus tumbuh hingga Mei. Pada titik tertentu, rumah -rumah penduduk bahkan mengalami kemiringan struktur yang mencapai 15 derajat.
“Longsor di desa Nawang dan desa -desa Kenkel cenderung mengarah ke lembah sungai di bagian barat. Jejak rayap ditemukan di tebing atas dan bawah, dan memotong jalan desa,” katanya.
Badan geologi mengklasifikasikan area yang terkena dampak di zona potensial pergerakan lahan menengah, yang berarti bahwa lebih dari 30 persen daerah tersebut berisiko jika ada hujan lebat atau guncangan gempa.
Untuk mitigasi jangka pendek, penduduk diminta untuk menutup retakan dengan tanah liat yang dipadatkan, memperbaiki drainase dengan saluran tahan air, dan menanam vegetasi yang berakar vegetasi seperti bambu, dokter hewan, jati, dan mahoni di lereng curam.
“Lokasi yang terkena dampak tidak boleh lagi digunakan sebagai area pemukiman dan berfungsi sebagai zona tangkapan air. Pemerintah setempat perlu merancang perencanaan tata ruang dan relokasi warga secara bertahap,” kata Wafid.*
Baca Juga: BMKG: Puting Waspada dan Tanah Longsor di Manggarai Barat NTT
Baca Juga: Bagian Jalan Ruteng-Reo di NTT ditutupi tanah longsor
Reporter: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Erafzon Saptiyulda As
Hak Cipta © antara 2025
RakyatPos Irian










