… sehingga rantai pasokan terus berjalan, skema harus diatur dan pola pembelian bahan baku harus dibuat, tidak hanya dari pasar
Jakarta (-) – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa kolaborasi Program Makan Gratis Program Makan (MBG) Intermitra dapat memperkuat ekonomi lokal dan mempertahankan rantai pasokan yang terus berjalan lebih baik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kolaborasi antara SPPG, petani, petani, dan UMKM yang akan menciptakan siklus ekonomi yang lebih kuat, pada kenyataannya ini adalah tujuan membangun mitra, sehingga dapur harus membeli dari pemasok, mulai dari telur, sayuran dan buah, juga yang lainnya. Sehingga layanannya) di SPEATING, POLA YANG MEMULAI, POLA YANG MEMULAI, POLA KAPAL, POLA YANG MEMULAI DAN PERTINDI POLA YANG MEMULIHKAN, BEGITU BAHAN YANG BUKU DENGAN PEMELIAN DAN PERTEMUAN BAHWA YANG MEREKA,” SATU -SAKIT, “SATU -SISING SATU,” SATU -SAKSI, “SPEATING POLA DAN POLA YANG MEREKA DENGAN POLE POLING,” Cibubur, Jakarta, Rabu.
Dia mengatakan, melalui MBG, UMKM tidak hanya memperoleh akses pemasaran yang lebih luas, tetapi juga membangun jaringan yang saling mendukung dalam rantai pasokan, distribusi, dan inovasi produk.
Selain itu, MBG memiliki potensi besar untuk menumbuhkan ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan permintaan untuk produk makanan domestik, dan memperkuat jaminan sosial.
Baca Juga: Peluang Terbuka BGN untuk menjadi mitra MBG untuk meningkatkan ekonomi masyarakat
Menurutnya, SPPG yang memproses bahan baku lokal akan membantu meningkatkan daya beli petani dan usaha kecil, sambil mempercepat pergantian ekonomi di daerah sekitarnya.
Pada kesempatan ini, Luhut bersama dengan kepala Badan Nutrisi Nasional Dadan Hindayana juga mengunjungi SMP Negeri 23 Depok City, Jawa Barat, untuk secara langsung mengamati implementasi MBG.
“Program MBG Selain menyediakan akses makanan bergizi gratis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, juga bertindak sebagai offtaker (pembeli langsung) dalam penyerapan produk lokal. SPPG di setiap wilayah dapat bekerja sama dengan UKM di sekitarnya dalam pemenuhan bahan baku MBG,” kata Dadan.
Dia memberi contoh salah satu ekosistem di Bogor yang berhasil memberdayakan para pemimpin masyarakat untuk menjual produk mereka sehingga mereka dapat diserap secara rutin.
“Di Bogor, Tamansari, ekosistem memang telah dibangun di atas rantai pasokan dan telah dipenuhi melalui kekuatan lokal. Awalnya para pemimpin masyarakat bingung di mana, sekarang dapat diserap secara rutin melalui MBG,” katanya.
Baca juga: 10 ribu sukarelawan SPPG dilatih, meningkatkan kualitas makan bergizi gratis
Program makan bergizi gratis bertujuan untuk memenuhi nutrisi nasional yang menargetkan siswa, balita, wanita hamil, dan ibu menyusui. Implementasi program MBG menyentuh banyak aspek, mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan makanan, penyerapan tenaga kerja lokal, hingga distribusi MBG yang memiliki potensi untuk mendorong ekonomi lokal.
BGN dan Den di masa depan akan terus mendorong pembentukan ekosistem dan pola pemenuhan bahan baku dan pergantian ekonomi lokal. Dengan pola yang terbentuk, MBG memiliki potensi sosial dan ekonomi yang luas.
Melihat kompleksitas implementasi MBG, BGN berkomitmen untuk meninjau secara rutin, memperkuat sistem dan tata kelola transparan, dan kolaborasi melalui keterlibatan masyarakat, penggunaan data yang konsisten sehingga rantai pasokan dipertahankan dan manfaat dari program ini dapat disalurkan secara optimal.
Baca Juga: REALIS RP2.3 Triliun, Kementerian Keuangan meminta BGN Dapatkan MBG Belanja Cepat
Baca Juga: Den Monitor Implementasi MBG di SMPN 23 Depok
Reporter: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Bernadus Tokan
Hak Cipta © antara 2025
RakyatPos Irian










